Selasa, 02 April 2013

Islam Pos-Kolonial


Dalam Islam ada kalimat yang sangat familiar, hubbul wathon minal iman, cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Kalau diingat, jargon tersebut dipopulerkan ulama pesantren yang mengartikulasikan terma wathon dengan sangat lincah. Lihat pula bagaimana pada tahun 1914 Kiayi Wahab Chasbullah dan Kiai Mas Mansur mendirikan organisasi pendidikan dan dakwah dengan nama Nahdhatul Wathon. Hal ini membuktikan bahwa kesadaran kebangsaan sudah ada dan jauh meresap dalam jiwa orang-orang Islam di pesantren. Jauh sekali sebelum kelompok konservatif-skripturalis kembali menggugat wathon dengan konsep keberagamannya satu dekade terakhir ini.


Keberadaan Islam pesantren senantiasa menyatukan diri dengan dinamika kehidupan bangsa Indonesia. Dan karena yang menjadi titik utama perjuangan mereka adalah pendidikan dan dakwah, maka sebenarnya tugas utama yang belum tuntas adalah terus men-transformasikan pengetahuan kebangsaan yang telah lama dipahami oleh leluhur kepada semua warganya untuk saat ini dan masa depan. Adalah satu kesulitan di akar rumput apabila pemahaman kebangsaan yang sangat luar biasa tersebut tidak bisa dimengerti dengan jelas oleh masyarakat kecil yang jarang tersentuh.

Islam pesantren setidaknya memberikan gambaran bahwa bicara Islam di Indonesia tidak bisa dijelentrehkan dengan mudah. Islam bukan hanya representasi sedikit orang yang menganut madzhab tertentu di dalam Islam. Saya cerita begini sebenarnya karena kemarin sore saya melihat wajah Islam yang berbeda dengan keseharian saat mengunjungi pameran buku yang katanya bertemakan Islam (Islamic Book Fair 2012) di ruang Islamic Center Cirebon (ICC), Masjid at-Taqwa di Jalan Kartini, tepat di seberang rumah redaksi Kabar Cirebon. Aneh bin ajaib, pada saat berada di tengah-tengah gelaran pameran secara psikologi sepertinya saya sedang berada di tengah-tengah negara semenanjung arab.

Setelah mengunjunginya, langsung saya teringat pada model Islam yang lain, Islam Pesantren yang dari dulu akrab mewarnai kehidupan masarakat Cirebon. Lihat saja, di Cirebon banyak sekali pesantren yang sudah terbukti mampu mengemban tugasnya sebagai tempat penggemblengan manusia Indonesia yang beragama Islam. Mulai dari pesantren Ciwaringin, Buntet, Gedongan, Kempek, Benda Kerep, Arjawingangun, dan lain sebagainya.

Saya juga langsung teringat pada sebuah buku dari Ahmad Baso, intelektual muda NU. Dalam bukunya dia panjang lebar bercerita tentang sejarah Islam yang berbeda dari Islam pesantren. Kita semua pasti mengenal Snouk Hurgronje, orientalis asal Belanda tersebut ternyata melakukan keahliannya di luar syak prasangka kita. Awal mula cerita dimulai pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Snouk mengusulkan untuk pertama kalinya dibentuk Kantoor voor Inlandsche Zaken, dibaca oleh orang pribumi sebagai Kantor Agama, embrio bagi lahirnya Departemen Agama.

Lembaga ini didirikan dengan tujuan untuk mengendalikan peran dari para Kiyai yang kerap kali memobilisasi masyarakat dengan praktik-praktik keagamaan populisnya. Gerakan semacam ini sangat membahayakan pemerintah, karena selain sangat rentan terhadap munculnya radikalisme petani, gerakan semacam ini juga dicurigai mengarah pada komunisme. Para Kiyai juga dianggap sangat berbahaya, karena dalam ajaran-ajaran mereka selalu memunculkan ide Ratu Adil di masa depan. Ide yang sangat berbahaya bagi relasi kuasa kolonial Belanda.

Oleh karena itu, dalam benak orang-orang Belanda ada rencana jangka panjang untuk menghilangkan kesadaran masyarakat pribumi yang demikian dengan memberikan edukasi. Supaya orang pribumi yang penuh dengan bid’ah dan tahayul itu menjadi rasional, modern dan tercerahkan.

Sedangkan untuk jangka pendek, mereka memanfaatkan gerakan wahabi yang sedang marak di Arab Saudi. Maka muncullah Sayid Usman, Usman dengan tegas menghantam praktik-praktik keislaman yang berbau bid’ah, takhayul dan khurafat. Dari Usman inilah dikotomi Islam muncul, Islam murni dan Islam bid’ah. Yang pertama diidentikkan dengan rasional dan modern sementara yang kedua sebagai fanatik dan tradional.

Apa yang dilakukan oleh Usman dan Snouk ini melahirkan gap yang memisahkan orang pribumi dari kontekstualisasi Islam. Islam sama sekali tercerabut dari pengamalan sehari-harinya. Makna yang terkandung di dalamnya terkuras habis dan dihilangkan dari garis kesejarahan pemeluknya. Islam pun muncul sebagai agama kolonial hasil perasan dan terjemahan dari mereka.

Islam berubah hanya menjadi bayangan gelap yang abstrak, hanya gambaran tentang dunia yang tidak jelas. Cara beragama ini benar-benar mengambil jarak dari realitas kesejarahannya dan sama sekali tidak menyentuh budaya lokal maupun nasionalisme. Cara beragama ini adalah cara beragama hasil terjemahan kepentingan kolonial dengan bentuk yang paling disukai oleh mereka.

Pada akhirnya Islam tidak mampu berkembang menjadi etika sosial. Tidak pula bisa hadir sebagai sebuah teologi yang membebaskan dan memberdayakan pribumi. Islam hanya menjadi bagian dari birokrasi penguasa, satu alat bagi penguasa untuk terus melanggengkan kekuasaannya. Contoh sekarang, anda bisa melihatnya pada MUI (Majelis Ulama Indonesia), bagaimana dia dengan seenaknya memberikan fatwa yang tidak tahu konteks dan bagaimana pula cueknya orang Islam di Indonesia menghadapi fatwa tersebut.

Pribumisasi Islam
Akhirnya, yang ingin saya sampaikan di sini adalah bahwa orang-orang pesantren harus terus berusaha untuk meletakan agama pada alam ke-Indonesiaan. Seluruh warganya harus memperjuangkan dengan sungguh-sungguh dan bersemangat pada komitmen yang sudah dibawa hampir seabad ini. Seperti yang sudah dicontohkan oleh Gus Dur, Islam perlu untuk dibumikan dan dipribumikan, pribumisasi Islam katanya. Bukan ide baru, tapi gagasannya memang perlu.

Starting Point gagasan pribumisasi Islam Gus Dur adalah memahami ajaran apapun (termasuk agama) dari luar budaya kita sebagai ajaran yang khas. Artinya, ajaran tersebut memiliki karakter yang melekat dengan nilai budaya asalnya. Ajaran agama Yahudi amat erat kaitannya dimana agama itu turun dan berkembang. yakni dengan bangsa Israel. Kristen walaupun turun di Palestina tetapi bentuknya yang sekarang perpaduannya adalah dengan budaya Eropa. Islam dengan budaya Arab, Hindu dengan Asia Selatan, Budha dengan Asia Timur, Konghucu dengan China, dan lain-lain.

Islam yang kebetulan lahir dan berkembang pertama kali di tanah arab tentu akan mengadopsi banyak sekali budaya gurun tersebut. Islam lahir dalam watak ke-arabannya. Maka, Islam yang datang ke Indonesia tidak harus mengambil watak kebudayaan asalnya itu. Melainkan semangat dari Islam harus dipahami sebagai semangat keagamaan. Semangat inilah yang kemudian harus dikembangkan dengan pengalaman kehidupan keseharian masyarakat Indonesia. 

Maka jadilah Islam yang dikembangkan menjadi Islam yang merubah manusia menjadi subjek kehidupan beragama, Islam Pos-Kolonial. Satu tafsir ajaran Islam yang terbebas dari hegemoni pengarusutamaan ajaran agama. Karena setiap ajaran tidak akan menghasilkan manfaat apa-apa kecuali kita jujur pada diri sendiri. Bahwa kita lahir di tanah Indonesia yang memiliki berbagai macam tradisi dan budaya. Menjadikan Islam tidak hanya sebagai cara untuk melegitimasi, menjustifikasi ataupun mengusai orang lain. Karena kita tidak bisa dan masih saja belum dewasa dalam menyikapi yang liyan, yang berbeda dengan diri kita. Lebih-lebih masalah agama.

Di negara yang pluralistik ini, Islam pos-Kolonial tidak hanya meletakan Islam pada dimensi kebudayaan kita. Dia juga bisa menjamin adanya toleransi umat beragama. Karena dia mengajarkan bahwa yang abadi dari satu ajaran agama bukanlah dogmanya, bukanlah doktrinnya, akan tetapi semangat kemanusiaannya. 

Wallau a’lamu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar