Skip to main content

Untuk Ndu

Hari ini terik, Ndu
Tapi tak sepanas kata-kata itu
Semua tahu baunya busuk, sebusuk sampah
Bahkan kemarin ada yang merapalnya dengan kejam
Awalnya kukira satu atau dua saja
Akhirnya menyusul tiga dan empat dan seterusnya

Di tengah panasnya kemarau ini, Ndu
Hanya cerita-cerita tentang Zam-zam yang terus menghiburku
Aku bersyukur, kau juga sepertinya teduh
Walau semua orang kampung tahu
Energimu habis menahan amarah

Percayalah, Ndu
Hari ini kucium bau ampu di mana-mana
Adakah hujan sudah turun di desa seberang?
Ataukah perlu kubawa awan-awan kelabu itu ke rumah kita
Agar tetesan airnya segera membasahi hatimu

Tahukah, Ndu
Bukan kebahagian yang membuatku terlena
Tapi kepedihan yang membuatku terus terjaga
Aku tersadar. Beban hidupku yang berat
Menjadi ringan saat kutahu kau ada di sampingku



Cirebon, 30 Oktober 2015

Comments

Popular posts from this blog

Syekh Magelung Disambut Ki Gede Karangkendal (3)

Gerbang menuju makam Ki Krayunan, yang dikenal dengan nama Ki Gede Karangkendal, Ki Tarsiman dan Buyut Selawe. Dok. Pribadi. ATAS perintah Sunan Gunung Jati, Syekh Magelung menuju ke arah utara, daerah Karangkendal.   Daerah Karangkendal saat itu bukan daerah kosong yang tidak ada penghuninya. Saat Syekh Magelung datang ke Karangkendal, di situ sudah ada pemukiman yang dipimpin oleh Ki Krayunan yang mendapat gelar Ki Gede Karangkendal.   Gelar tersebut bukan gelar yang diberikan rakyat melainkan sebuah gelar kepangkatan. Adapun tanda kepangkatannya sebagai Ki Gede Karangkendal adalah bareng sejodo / bareng jimat . Tanda kepangkatan tersebut diberikan langsung oleh Mbah Kuwu Cirebon kepadanya. Di daerah Karangkendal sendiri terdiri dari dua karang (tanah) yang dipisahkan oleh sebuah sungai kecil. Daerah sebelah utara disebut Karang Krayunan sementara daerah sebelah selatan disebut Karang Brai. Ki Gede Karangkendal disebut juga dengan nama Ki Krayunan karena me...

Para Murid Syekh Magelung (4)

Suasana sore hari di sekitar depok di dalam komplek Makam Syekh Magelung Sakti. Dok. Pribadi.  SEPENDEK yang penulis ketahui, banyak sekali murid yang pernah belajar di Pesantren Karang Brai. Akan tetapi, murid Syekh Magelung yang termashur diantaranya adalah Ki Jare/Ki Campa, Ki Tuding/Ki Wandan yang kuburannya dapat ditemukan di Desa Tegal Semaya Kecamatan Krangkeng Kabupaten Indramayu. Kemudian ada Raden Mantri Jayalaksana dari Desa Wanakersa (sekarang Desa Kertasura) Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon, Ki Braja Lintang (Ki Lintang) dari Rengasdengklok Karawang, Ki Buyut Tambangan, Ki Gede Ujung Anom, Ki Pati Waringin, Nyi Gede Manukan dan Ki Gede Tersana dari Kertasemaya, Kabupaten Indramayu. Di bawah ini adalah sebagian cerita rakyat mengenai beberapa murid Syekh Magelung sakti:

Namanya Gagak Ngampar

Ilustrasi: kanisiusmedia.com ORANG -orang menyebutnya Gagak Ngampar. Pikirku nama yang aneh. Tapi mungkin lazim di zaman itu menyebut seseorang dengan nama-nama hewan. Seperti nama Hayam Wuruk ataupun patihnya, Gajah Mada; juga Walangsungsang. “ Gagak artine manuk gagak lan ngampar iku maksude menclok ning lema, ndarat ,” kata salah seorang tetua kampung. Namanya Bapa Sutur. Bapa Sutur begitu fasih jika bercerita mengenai asal-usul dan legenda Desa Kertasura. Meskipun penglihatannya terbatas, otaknya seperti alat penyimpanan semacam hardisk. Di dalamnya bersemayam legenda-legenda yang ada di Cirebon pra-Islam berusia ratusan tahun. Cerita yang ditakdirkan untuk menunggu waktu sebelum akhirnya lenyap dimakan usia. Meski beberapa puluh tahun yang lalu Bapa Sutur telah mangkat, tetapi orang-orang di kampung masih meyakini bahwa nenek moyang mereka adalah Gagak Ngampar, seorang petapa. Mereka percaya itu karena terlalu sulit untuk menjelaskan bahwa bisa jadi nenek moyan...